Dalam menelaah fenomena geosfer, geografi
menggunakan konsep-konsep geografi untuk mempermudah analisis suatu fenomena. Menurut
Henry J. Warman, geografi memiliki 15 Konsep untuk menelaah suatu gejala, yaitu
:
1. Regional Concept (konsep regional)
Merupakan sebuah konsep yang didasarkan pada definisi regional itu
sendiri, yaitu wilayah dipermukaan bumi yang memiliki karakteristik yang khusus
seperti keadaan alam maupun kehidupan sosial budayanya, sehingga nantinya akan
dapat dibedakan antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lainnya. Dala ilmu
geografis, kosep ini dianggap memiliki sifat yang komprehensif. Dan dengan adanya
konsep ini, diharapkan setiap orang mampu melakukan analisa terhadap
permasalahan-permasalahan atau gejala-gejala yang terjadi di muka bumi dengan
analisa spasial (keruangan) serta mampu menelaah adanya hubungan timbal balik
diantara komponen-komponen tersebut.
Contoh dari konsep regional antara lain :
Kecamatan Ngargoyoso
memiliki topografi berupa perbukitan dengan kemiringan lereng yang landai
hingga sangat curam, sehingga ada beberapa kawasan yang memiliki tingkat
kerawanan longsorlahan tinggi.
2. Life layer Concept (konsep batas
kehidupan)
Manusia serta makhluk hidup lain memiliki batasan-batasan tertentu agar
bisa betahan hidup di suatu wilayah di permukaan bumi ini. Konsep ini dapat
didefinisikan bahwa bumi merupakan suatu tempat yang diperuntukkan bagi manusia
serta makhluk lainnya untuk bertahan hidup, meskipun sebagian wilayah dari
permukaan bumi tersebut tidak dapat dihuni. Beberapa faktor yang mempengaruhi
konsep ini antara lain adalah ketersediaan sumber daya alam, serta kemampuan
yang dimiliki manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam tersebut.
Contoh :
Desa Segorogunung memiliki tanah dengan
karakteristik berteksur geluh pasiran, sehingga lahan di Desa tersebut tidak
cocok digunakan untuk ditanami padi, yang notabenenya sebagai makanan pokok
manusia. Untuk mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari, penduduk menanam hanya
menanam sayuran sebagai komoditi utama mereka.
3. Man ecological dominant concept ( konsep
manusia sebagai makhluk yang paling dominan)
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna yaitu
dengan dibekalinya akal atau kemampuan untuk berfikir sehingga dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya itu, manusia mampu menciptakan
sesuatu. Dengan kata lain, manusia memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan
pada lingkungan hidup, baik itu dalam upaya meningkatkan kualitas maupun justru
untuk merusaknya.
Contoh :
Banyaknya perbukitan dengan pemandangan yang menarik
membuat penduduk yang tinggal di Desa Kemuning menyulap perkebunan teh menjadi
lahan wisata. Hal tersebut dilakukan
penduduk untuk mendapatkan penghasilan dari potensi alam dengan mengubah lahan
dari perkebunan menjadi lahan terbangun yang dapat menghasilkan uang lebih
banyak.
4. Globalism concept (konsep globalisme)
Pada dasarnya wilayah di permukaan bumi ini merupakan satu kesatuan,
sehingga apabila terjadi perubahan pada wilayah yang satu, maka hal tersebut
akan berpengaruh pada wilayah yang lainnya. Konsep ini telah dipergunakan dalam
upaya penyebaran informasi keseluruh wilayah di bumi ini tanpa terhalang oleh
batas negara, batas wilayah, maupun batasan alam.
Contoh :
Kecamatan Ngargoyoso memiliki banyak lokasi pariwisata
yang menarik untuk dikunjungi, tidak perlu datang langsung untuk mensurvey
lokasi wisata, karena dapat diketahui melalui akun-akun media sosial sehingga
akan lebih mudah untuk memilih lokasi wisata yang sesuai dengan keinginan.
5. Spatial interaction concept (Konsep
interaksi keruangan)
Konsep ini memberikan gambaran tentang keterkaitan antar komponen ruang
di permukaan bumi ini, seperti faktor alami, faktor alami dengan kehidupan
manusia, faktor alami dengan kehidupan sosial budaya, atau juga antar sosial.
Contoh :
Beberapa kawasan di Kecamatan Ngargoyoso memiliki
kemiringan lereng curam dan penggunaan lahan berupa sawah tadah hujan. Dengan
adanya karakteristik lahan yang seperti itu maka tingkat kerawanan longsorlahan
di Kecamatan Ngargoyoso tinggi, karena penggunaan lahan berupa sawah tadah
hujan akan memperbesar jalan bagi air untuk mengikis lapisan tanah atas, yang
dapat meningkatkan kerawanan longsorlahan.
6. Areal Relationship Concept (Konsep
hubungan timbal balik)
Konsep ini menyajikan gambaran terkait adanya hubungan timbal balik
antar wilayah di permukaan bumi, yang menjadi faktor utama pada peristiwa
tersebut adalah faktor alam dan faktor manusia.
Contoh :
Kecamatan Ngargoyoso memiliki suhu yang sejuk dan
terdapat perkebunan teh yang luas, hal tersebut mendorong masyarakat dari luar
Kecamatan Ngargoyoso berukunjung ke Ngargoyoso untuk menikmati kondisi alam
tersebut.
7. Areal Likenesses Concept (Konsep kesamaan
wilayah)
Konsep ini menjelaskan bahwa terkadang beberapa wilayah di permukaan
bumi ini memiliki gejala, sifat alamiah, maupun kehidupan sosial yang hampir
sama.
Contoh :
Kecamatan Ngargoyoso dan Tawangmangu terletak di
lereng barat Gunung Lawu dan memiliki ketingian yang hampir sama, topografi di
kedua kecamatan tersebut juga berupa perbukitan. Tetapi komoditi kedua
kecamatan tersebut berbeda, di Kecamatan Ngargoyoso terdapat perkebunan teh
sedangkan di Kecamatan Tawangmangu tidak, hal inilah yang menjadi pembeda kedua
wilayah yang memiliki ciri-ciri hampir sama tersebut.
8. Areal Differences Concept (Konsep
Perbedaan Wilayah)
Hal ini merupakan kebalikan dari konsep sebelumnya, dimana terdapat
perbedaan diantara wilayah-wilayah yang ada di permukaan bumi ini.
Contoh :
Kecamatan Ngargoyoso terbagi menjadi 9 wilayah
administrasi desa. Desa Segorogunung terletak di ujung timur yang berbatasan
langsung dengan Provinsi Jawa Timur dan memiliki topografi berupa perbukitan
dengan kemiringan lereng yang curam, sedangkan Desa Nglegok berbatasan dengan
Keamatan Karangpandan dan topografinya berupa dataran rendah.
9. Areal Uniquennes Concep (Konsep Keunikan
Wilayah)
Konsep ini menggambarkan tentang adanya kekhasan serta keunikan suatu
wilayah jika dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Contoh :
Walaupun termasuk dalam kawasan tingkat kerawanan
longsorlahan tinggi, warga yang tinggal di Desa Mlili tidak pindah dari Desa
tersebut, karena mereka lebih memilih dekat dengan ladangnya daripada
keselamatan diri dan keluarganya.
10. Areal Distribution Concept (Konsep
Distribusi atau persebaran wilayah)
Konsep ini menggambarkan adanya ketidakmerataan berbagai fenomena,
gejala, maupun fakta-fakta yang menyebar di permukaan bumi.
Contoh :
Kecamatan Ngargoyoso memiliki karakteristik lahan yang
berbeda-beda. Di dataran tinggi dengan kemiringan lereng curam dan suhu dingin,
sejuk komoditinya berupa sayuran dan teh. Sedangkan pada dataran rendah dengan
kemiringan lereng datar hingga sedang, komoditinya berupa padi dan buah jambu.
11. Relative Location Concept (Konsep Lokasi
Relatif)
Konsep ini menjelaskan tentang keberadaan suatu wilayah di permukaan
bumi yang memiliki lokasi berdasarkan wilayah yang ada di sekitarnya., dimana
sesuai dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kehidupan
sosial budaya,
12. Comperative Advantage Concept (Konsep
Keuntungan secara Komparative)
Konsep ini menggambarkan terjadinya perbandingan antara wilayah-wilayah
di permukaan bumi melalui kompone-komponen di dalamnya, baik itu yang berasal
dari unsur alamiah, maupun unsur sosial sehingga dapat diketahui tentang adanya
kelebihan maupun kekurangan wilayah tersebut yang dengan begitu nantinya
kebijakan-kebijakan yang menyangkut karakteristik suatu wilayah dapat
ditentukan.
13. Perpetual Transformation Concept (Konsep
Transformasi yang berkesinambungan)
Konsep ini memberikan gambaran tentang adanya unsur-unsur geografi pada
suatu wilayah yang akan selalu mengalami perkembangan dan proses transformasi
secara dan berkelanjutan sesuai dengan ruang dan waktu kehidupan.
14. Culturally Defined Recources Concept
(Konsep Penetapan Sumber Daya)
Konsep memberikan penjelasan terkait dengan tingkat optimalisasi
pengelolaan serta pemanfaatan Sumber Daya yang ada di suatu wilayah dipermukaan
bumi, dimana wilayah satu dan yang lainnya memiliki sumber daya yang
berbeda-beda. Perbedaan tersebut terkait oleh faktor budaya, adat istiadat,
serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penduduk di wilayah tersebut,
dimana setiap wilayah memiliki cara yang berbeda-beda dalam rangka
mengeksploitasi sumber daya sesuai dengan kondisi wilayahnya.
15. Round Earth On Flat Paper Concept (Konsep
Bumi Bulat pada Bidang Datar)
Konsep ini memiliki keterkaitan dengan keberadaan peta yang merupakan
hasil karya manusia dalam upaya mentransformasikan bentuk bumi yang bulat
beserta fenomena-fenomena yang terjadi ke dalam suatu bidang datar melalui
sistem proyeksi, yaitu suatu sistem yang digunakan untuk mentransformasikan bidang
lengkung ke dalam bidang datar. Dalam ilmu perpetaan (kartografi) terdapat 3
proyeksi peta, yaitu silinder, kerucut, serta azimutal.
Comments
Post a Comment